Senin, Juni 16, 2008

Beyond Centre and Circle Time

Oleh :
Widya Ayu Puspita, SKM., M.Kes
Pemerhati Pendidikan Anak Usia Dini

Bermain adalah dunia anak dan bukan hanya sekedar memberikan kesenangan, akan tetapi juga memiliki manfaat yang sangat besar bagi anak. Lewat kegiatan bermain yang positif, anak bisa menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi penginderaannya, menjelajahi dunia sekitarnya, dan mengenali lingkungan tempat ia tinggal termasuk mengenali dirinya sendiri.
Kemampuan fisik anak semakin terlatih, begitu pula dengan kemampuan kognitif dan kemampuannya untuk bersosialisasi. Dalam bahasa sederhana, bermain akan mengasah kecerdasannya.
Metode sentra dan lingkaran merupakan salah satu metode pembelajaran dalam pendidikan anak usia dini yang mengedepankan konsep bermain bagi anak, sehingga pertumbuhan dan perkembangannya optimal. Dalam metode ini, alat-alat dan bahan-bahan main dikelompokkan dalam beberapa sentra sesuai dengan kebutuhan.
Sentra persiapan merupakan salah satu sentra yang mengasaha kemampuan kognitif dan motorik halus pada anak. Dengan demikian, saya menyambut baik kehadiran bahan belajar ini sebagai pendukung bagi pendidik anak usia dini dalam mengembangkan sentra persiapan lebih lanjut. Bermain bukan hanya sekadar memberikan kesenangan, tapi juga bermanfaat besar bagi anak. Lewat kegiatan bermain yang positif, anak bisa menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi penginderaannya, menjelajahi dunia sekitarnya, dan mengenali lingkungan tempat ia tinggal termasuk mengenali dirinya sendiri. Kemampuan fisik anak semakin terlatih, begitu pula dengan kemampuan kognitif dan kemampuannya untuk bersosialisasi. Dalam bahasa sederhana, bermain membuatnya mengasah kecerdasannya.
Setiap anak pada dasarnya cerdas. Akan tetapi, kecerdasan tidak semata-mata merujuk kepada kecerdasan intelektual saja, atau lebih dikenal dengan istilah IQ. Ada pula kecerdasan majemuk (multiple intelligences) seperti kecerdasan bahasa, logika matematika, visual spasial, musik, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, natural dan moral. Setiap anak memiliki kesembilan kecerdasan ini meski dengan taraf yang berbeda-beda.
Bermain merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mengembangkan potensi dan multiple intelligences anak karena melalui kegiatan bermain ia akan lebih mudah menyerap informasi dan pengalaman.
Dengan bermain, berdasarkan riset penelitian yang ada, anak ternyata menjadi lebih cerdas, emosi dan kecerdasan anak pun meningkat. Anak juga jadi lebih peka akan kebutuhan dan nilai yang dimiliki orang lain. Bermain bersama teman juga memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menyesuaikan perilaku mereka dengan orang lain. Hebatnya lagi, anak juga mampu menghargai perbedaan di antara mereka.
Bermain merupakan jendela perkembangan anak. Lewat kegiatan bermain aspek perkembangan anak bisa ditumbuhkan secara optimal dan maksimal. Membiarkan anak-anak usia pra sekolah bermain telah terbukti mampu meningkatkan perkembangan mental dan kecerdasan anak, bahkan jika anak tersebut mengalami malnutrisi.
Lancet Medical Journal baru-baru ini menyebutkan bahwa ada beberapa penelitian yang menemukan kaitan antara kecerdasan dan kegiatan bermain anak. Program kegiatan bermain untuk anak-anak kekurangan gizi di Bangladesh terbukti meningkatkan IQ mereka sampai 9 poin (Sally McGregor, 2006) dari Institute of Child Health at University College London. Malnutrisi atau kekurangan gizi sudah suatu masalah, namun malnutrisi tanpa stimulasi bagi perkembangan mental merupakan masalah yang jauh lebih besar. Juga dilaporkan dalam jurnal tersebut bahwa lebih dari 200 juta anak miskin di dunia kekurangan gizi. Sekitar 89 juta di antaranya ada di Asia Selatan dan 145 juta lainnya ada di negara India, Nigeria, China, Bangladesh, Ethiopia, Pakistan, Congo, Uganda, Tanzania, dan Indonesia.
Disimpulkan oleh para periset bahwa untuk meningkatkan kecerdasan anak-anak miskin tersebut bisa dilakukan dengan tindakan intervensi sederhana, yakni mendorong anak-anak untuk banyak bermain di rumah serta tentu saja meningkatkan kadar gizi mereka. Selama ini masyarakat terlalu memfokuskan untuk mengurangi angka kematian, tapi mereka sering lupa kalau banyak anak-anak yang terancam tidak bisa mencapai kecerdasan optimal, setelah duduk di kelas 5 atau 6 SD, kesempatan mereka untuk memperbaikinya sudah tipis.
Ditambahkan oleh Mc. Gregor, 2006, di sebuah daerah di Jamaica, anak-anak dari keluarga miskin diberi bantuan mainan yang bisa dimainkan sendiri di rumah, lalu perkembangan mereka dipantau sampai berusia 18 tahun. Tingkat IQ mereka lebih baik, kemampuan bacanya baik dan jarang yang drop-out dari sekolah, selain itu kesehatan mental anak-anak itu juga baik, mereka tidak depresi dan lebih percaya diri.
Sudah saatnya apabila kita semua, terutama para orang tua menyadari bahwa kegiatan bermain bukanlah kegiatan tak berguna dan hanya membuang waktu. Bermain selain merupakan hak asasi anak, juga diperlukan untuk meningkatkan kemampuan mereka (Kompas, 05 Januari 2007).
Selama ini perkembangan kecerdasan anak hanya dipandang dari kecerdasan intelektual saja, namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan para peneliti kecerdasan memunculkan teori baru tentang multiple intelligence. Teori tersebut menjadi dasar bagi beragamnya metode pembelajaran baik formal maupun non formal. Ragam metode pembelajaran tersebut bisa dilihat dari maraknya sekolah yang memunculkan berbagai keunggulan sekolah. Pada dasarnya metode belajar baik formal maupun non formal mengacu kepada bagaimana si anak dapat berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya. Tugas pendidik dan orang tua adalah membidani pengetahuan yang sudah ada dalam diri anak agar tereksplorasi secara alamiah.
Pendidikan bagi anak usia dini seharusnya dapat menyeimbangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik serta memberikan pendidikan dari segi moral dan sensitivitas anak terhadap permasalahan sosial. Permainan yang disajikan bagi anak usia dini harus lebih kreatif lagi. Seiring dengan perkembangan budaya, permainan yang berkembang dalam diri anak sudah bergeser. Tidak salah jika anak sudah meninggalkan permainan tradisional daerah karena budaya permainan yang berbasis teknologi terus berkembang. Untuk itu tetap harus memperkenalkan permainan tradisional daerah, selain anak mempunyai variatif permainan juga untuk mewariskan khazanah budaya yang berjuta pesona.
Untuk memfasilitasi anak agar memiliki kesempatan bermain yang cukup, pendidikan anak usia dini salah satunya dikembangkan dengan menggunakan metode sentra dan lingkaran yang diadopsi dari metode BCCT (Beyond Centre and Circle Time). Dalam metode ini, pembelajaran dibagi dalam bentuk sentra. Salah satu sentra yang ada adalah sentra persiapan. Sentra ini merupakan ”bengkel kerja” bagi anak-anak guna mengoptimalkan kemampuan keaksaraan pada anak sejak dini.

14 komentar:

Anonim mengatakan...

Artikel ini bagus banget, bagaimana caranya untuk bisa tahu lebih jauh tentang metode Sentra dan Lingkaran? Dengan metode ini saya berharap anak usia dini tidak lagi dibebani pelajaran ca-lis-tung sampai benar-benar ada kesiapan dari anak yang bersangkutan. Trimakasih infonya.

Anonim mengatakan...

Silahkan hubungi ibu Widya Ayu Puspita, SKM.MKes karena beliau yang mempunyai certificate TOT atas BCCT, beliau akan menjelaskan lebih detail tentag hal ini.

PIC : Widya Ayu Puspita
HP : 081553210998
Kantor BPPLSP Reg.IV Jatim jl. Gebang Putih No. 10 Surabaya
Telp : 031-5945101

Anonim mengatakan...

BCCT belum banyak dikenal oleh semua Pamong Belajar BPKB. Bagaimana solusinya?

Anonim mengatakan...

Yang dilatih BCCT tidak menularkan pada teman sejawat, mereka membentuk tim se daerah tuk membisniskan pengajaran BCCT. Pada hal yang dikirim pelatihan hanya satu orang terus menerus, jadi yang lain tak ada kesempatan menegetahui apa BCCT

wuryani mengatakan...

artikel ini sangat bermanfaat sekali

Anonim mengatakan...

Saya sudah pernah 2x mengikuti pelatihan BCCT tingkat propinsi jateng,pertama th 2004 di purworejo,kedua th 2005 di ambarawa .banyak hal yang saya dapati dlm pelatihan tsb,namun sayang beribu sayang ..sampe skrgpun platihan tsb msh myisakan ptanyaan yg krusial yg blm sy temukan jwbny sampe sekarang ..bhkn ktika membuka website inipun,sy sndiri msh blank..sepengetahuan sy BCCT itu metode bkn kurikulum,tp msh ada ja yg mganggap sbg kurikulum.Definisi dari BCCT itu apa kongkritnya?slama ni pjelasan yg sy trima berbelit2,bahkan sampe tutor dari pusat,pada saat platihan memiliki jawaban yg berbeda beda .bahkan pd ksempatan yg berbeda,pernah sy mencoba mgoreksi,knapa da pgertian yg berbeda beda ttg BCCT,malah dijawab wajar2 saja,soalny metode ini dbw dari florida,jadi untuk menerjemahkan dlm bhs kita sangat terbatas.wuah2 saya cuman nyengir dngar jawaban tsb.masak trainer tingkat propinsi,bhkn dari pusat lg,memiliki definisi yg bbeda2,bukanya mereka dtraining dl sebelum kita.

ri2n mengatakan...

numpang lewat bu....

by
ririn SKB Situbondo

Anonim mengatakan...

Metode sentra dan lingkaran telah lama disosialisasikan, baik melalui pemerintah daerah di tingkat propinsi, kab./kota, maupun melalui asosiasi profesi. Pemerintah daerah dapat melalui dinas pendidikan prop./kab./kota ataupun UPT, seperti P2PNFI, BPPNFI, BPKB, SKB, sedangkan asosiasi profesi antara lain himpaudi dan forum PAUD.
Kalau saya menerjemahkan BCCT, mungkin lebih ke arah filosofis. Beyond artinya melampaui batas, centre and circle time saya menerjemahkan sebagai ruang dan waktu, jadi BCCT kalau diartikan satu persatu menurut saya adalah melampaui ruang dan waktu. Jadi, kalau diartikan adalah kita memberikan sesuatu, dalam hal ini adalah fondasi bagi anak, yang berguna untuk waktu yang akan datang. Jadi, dengan BCCT diharapkan kita memberikan bekal kepada anak sesuatu yang akan bermanfaat bagi kehidupannya kelak. Bekal ini kita berikan melalui permainan2 kreatif, yang pada dasarnya merupakan sarana bagi anak untuk belajar serta optimalisasi tumbuh kembangnya. Jadi, pendidik harus kreatif, sehingga dapat "memprediksi" kira-kira kebutuhan anak kelak itu apa sih, sehingga penataan lingkungan main, alat dan jenis main, dll, harus sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik anak, bermakna, dan bukan "ala kadarnya". Mungkin ini komentar yang bisa saya berikan...

salam, Widya Ayu P., M.Kes

Anonim mengatakan...

Saya senang sekali membaca artikel ibu karena masih banyak orang tua dengan kondisi ekonomi rendah beranggapan bahwa pendidikan usia dini belum penting bagi anak mereka. Mudah-mudah dengan saya mensharingkan tulisan ibu akan membuat para orang tua mau memperhatikan pendidikan anaknya. Thanks bu

henny puji rahayu mengatakan...

terimakasih artikel tentang BCCTnya, yang masih menjadi pertanyaan besar bagi saya adalah bagaimana bentuk teknis dari penerapan BCCT terutama untuk daerah yang minim sarana dan prasarana
terimakasih.
salam

Paud Cerdas Banyuwangi mengatakan...

Salam kenal ibu.Terima kasih atas tulisan ibu. Saya berasal dari Banyuwangi. Sudah 2 thn lebih Saya bersama teman2 mahasiswa di Bwi mendirikan PAUD "Cerdas" Banyuwangi(Gratis untuk kalangan kesulitan). pada tahun ajaran ini terdaftar 247 murid yang mengikuti penddkn di lembaga kami, sekalipun belum pernah dpt bantuan dari pemerintah, alhmd paud kami bisa berjalan dengan baik . tulisan ibu tentang kecerdasan yg dipengaruhi gizi anak telah kami sampaikan kepada wali murid. kami akan terus menunggu tulisan2 ibu dan kami berharap bisa sharring .....

coretan blog go blog mengatakan...

di sekolah PAUD,kami sudah menerapkan metode BCCT. cuma yang jadi masalah adalah saya belum paham mengenai sentra.
mungkin bisa di jelasin tentang sentra Bahan Alam, Main Peran, dan Imtaq.

tes sidik jari mengatakan...

sesungguhnya seseorang itu mempunyai bakat kecerdasan tunggal bukan multiple intelligence (maaf beda pendapat).seharusnya kita mengenali bakat kecerdasan tunggal kita masing masing,karena inilah sistem operasi otak kita yang aktif mendominasi seluruh aktifitas kita sampai mati.tks

Ummu Yahya mengatakan...

Yang pengen tahu lbh byk ttg Metode Sentra ini bisa kok langganan Majalah MEDIA TK SENTRA punya bu Siska Massardi...tny mbak Hanun di telp/fax 021 7470 6517..insyaallah bermanfaat:)

 
Search Engine Optimization - AddMe